Category: Edukasi


Kuliah Di Negeri Tetangga


Untuk dapat hidup di luar negeri membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit. Menurut konsultan Pendidikan luar negeri living cost yang kemungkinan tidak beda jauh dengan Indonesia adalah Malaysia. Untuk itu dengan menggunakan hal tersebut akan memberikan berbagai macam kebutuhan Anda. Sehingga ketika memilih hal tersebut dapat membuat Anda nyaman untuk dapat tetap tinggal ditempat tersebut dengan berbagai macam keinginan yang banyak sehingga harus memilih tempat yang memilih living cost yang murah. Selain itu banyak lagi alasan untuk dapat memilih kuliah di Malaysia hal tersebut karena biaya kuliah di Malaysia jauh lebih murah. Dibandingkan dengan Negara lain untuk itu dengan menggunakan hal yang sama dapat memberikan hal tersebut dapat memberikan kesempatan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Malaysia memang merupakan tetangga Indonesia paling dekat sehingga tidak heran jika negara ini sering sekali digunakan sebagai tempat tinggal kedua untuk dapat menggunakan hal tersebut sebagai salah satu cara untuk dapat bertahan di tempat tersebut. untuk itu dengan melihat konsultan Pendidikan luar negeri sebagai salah satu keinginan Anda untuk dapat memilih tempat yang sesuai dengan keinginan Anda. Tidak heran dengan memilih tempat yang layak dan sesuai dengan kebutuhan Anda. Untuk itu dengan memilih tempat yang sesuai dengan keinginan Anda. Sehingga Anda dapat lebih mudah untuk dapat hidup di Malaysia saja. Selain itu juga kualitas Pendidikan di Malaysia di akui secara global artinya bahawa Pendidikan di Malaysia memiliki kelas dunia.

Untuk itu dengan memilih kuliah di Malaysia dapat merasakan sensasi kenikmatan kuliah dengan kualiatas international dan layak untuk dapat digunakan dalam berbagai macam kesempatan yang dapat memberikan konsultan Pendidikan luar negeri untuk dapat tetap stay dan juga dapat memberikan berbagai macam kebutuhan Anda. Untuk itu dengan menampilkan hal tersebut dalam berbagai macam kesempatan yang cocok untuk dapat memilih hal tersebut dalam berbagai macam kesempatan yang penting untuk dapat menempuh Pendidikan di tempat tersebut selama paling tidak lulus sarjana.

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku


Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku” ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
Pengurusan ISBN
Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya
“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga 🙂 Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.